Kamis, 22 Oktober 2015

ORGANISASI



A.      Organisasi
1.       Pengertian Organisasi
Menurut para ahli terdapat beberapa pengertian organisasi sebagai berikut.
  1. Stoner mengatakan bahwa organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan atasan mengejar tujuan bersama [2].
  2. James D. Mooney mengemukakan bahwa organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama [3].
  3. Chester I. Bernard berpendapat bahwa organisasi adalah merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih[4].
  4. Stephen P. Robbins menyatakan bahwa Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.
2.       Prinsip Organisasi
Untuk mengatasi atau menyembuhkan penyakit dalam organisasi tersebut, kiranya perlu diperhatikan dan diikuti beberapa prinsip berorganisasi.
Pendapat Hendri Fayol adalah :
1.       Melalui  pembagian tugas pekerjaan;
2.       Kesatuan dalam pengarahan;
3.       Sentralisasi dalam pekerjaan;
4.       Mata rantai tingkat jenjang organisasi,
 Kemudian pendapat ahli lain dikemukakan Max Weber yang diharapkan organisasi dapat menjalankan prinsip sebagai berikut :
1. Semua kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi harus di dasarkan keahlian, sehingga pemegang jabatan mampu menjalankan tugas dengan baik.
2. Pelaksana tugas pekerjaan harus sesuai dengan kebijaksanaan peraturan dan prosedurnya.
3. Setiap pelaksanaan tugas pekerjaan harus dapat dipertanggungjawabkan kepada atasan melalui mata rantai tingkat unit dalam organisasi.
4. Semua keputusan harus diambil secara formal  dan tidak ada pertimbangan yang bersifat pribadi.
5. Hal-hal yang menyangkut  bidang kepegawaian harus didasarkan pada system kecakapan (Merit system) yang berdasarkan atas kemampuan profesionalisme.
3. Perumusan Tujuan Organisasi
Tujuan dirumuskan dengan mempertimbangkan seluruh kekuatan yang terlibat dalam operasi organisasi. Perumusan tujuan merupakan Hasil usaha perpaduan untuk memuaskan semua pihak / himpunan berbagai tujuan individu dan organisasi.
Agar perumusan tujuan efektif manajer perlu memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut :
  1. Proses perumusan tujuan hendaknya melibatkan individu-individu yang bertanggung jawab terhadap pencapaian tujuan;
  2. Manajer puncak (sebagai perumus tujuan umum) hendaknya bertanggung jawab untuk menurunkan tujuan-tujuan pada tingkatan yang lebih rendah;
  3. Tujuan harus realistic, diselaraskan dengan lingkungn internal dan eksternal;
  4. Tujuan harus jelas, beralasan dan bersifat menantang anggota organisasi;
  5. Tujuan umum hendaknya dinyatakan secara sederhana agar mudah dipahami dan diingat oleh pelaksana;
  6. Tujuan bidang fungsional organisasi harus konsisten dengan tujuan umum;
  7. Manajemen harus selalu meninjau kembali tujuan telah ditetapkan.
4. Bentuk-bentuk Organisasi
a)      Kelompok Primer (Primary Group)
Orang yang pertama kali merumuskan dan menganalisis suatu kelompok primer ini adalah Charles H. Cooley. Didalam bukunya Organisasi-organisasi Sosial (Social Organizations), yang diterbitkan untuk pertama kalinya tahun 1909.
Konsep kelompok primer dari Cooley ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari buah pendapat George Homans. Di dalam bukunya yang klasik berjudul The Human Group (Kelompok Manusia).
Seringkali istilah kelompok kecil (Small group) dan kelompok primer (primary group) dipakai silih berganti. Secara teknis ada bedanya. Suatu keompok kecil di jumpai hanya untuk di hubungkan dengan suatu kriteria ukuran jumlah anggota kelompoknya, yakni kecil. Dan pada umumnya tidak di ikuti dengan spesifikasi berupa jumlah yang tepat untuk kelompok kecil tersebut.
Suatu kelompok  primer haruslah mempunyai suatu perasaan keakraban, kebersamaan, loyalitas, dan mempunyai tanggapan yang sama atas nilai-nilai dari para anggotanya. Dengan demikian, suatu kelompok primer adalah kelompok yang kecil ukurannya, tetapi tidak semua kelompok kecil adalah primer.
b)      Kelompok Formal dan Informal
Kelompok formal adalah suatu kelompok yang sengaja dibentuk untuk melaksanakan suatu tugas tertentu. Anggota-anggotanya biasanya diangkat oleh organisasi. Contoh dari kelompok formal ini antaranya komite dan panitia, unit-unit kerja tertentu seperti bagian, laboratorium riset dan pengembangan, tim manajer, kelompok tukang pembersih, dan lain sebagainya.
Adapun kelompok informal adalah suatu kelompok yang dari proses interaksi, daya tarik, dan kebutuhan-kebutuhan seseorang. Anggota kelompok tidak diatur dan diangkat, keanggotaan ditentukan oleh daya tarik bersama dari individu dan kelompok. Kelompok informal ini sering timbul berkembang dalam kelompok formal, karena adanya beberapa anggota yang secara tertentu mempunyai nilai-nilai yang sama yang perlu ditularkan (shared) sesama anggota lainnya. Kadang kala kelompok informal berkembang atau keluar dari organisasi formal.
Suatu studi klasik dalam bidang organisasi industrenjelaskan tiga pola dari kelompok informal ketiga pola tersebut antara lain:
a.       Klik Mendatar (Horizontal Clique)
b.       Klik Menegak (Vertikal Clique)
c.        Klik Acak (Random Clique)
Klik mendatar adalah suatu klik yang anggota-anggotanya terdiri dari orang-orang yang terbatas pada derajat dan bidang kerja yang sama. Adapun klik yang vertikal adalah klik yang terdiri orang-orang yang berbeda dari tingkatan hirarkinya di dalam satu organisasi atau departemen dari organisasi tersebut. Kelompok klik ini sering kali berkembang karena adanya kebutuhan keamanan atau pencapaian sesuatu hasil yang perlu dibagi ratakan, atau karena adanya minat bersama untuk mengatasi jarak sosial antara atasan dan bawahan. Sedangkan klik acak adalah terdiri dari orang-orang yang berasal dari berbagai derajat, tingkat, bagian dan lokasi.

Ajeg = tetap,tidak berubah, teratur.
c)       Kelompok Terbuka Dan Tertutup
Kelompok terbuka adalah suatu kelompok yang secara ajeg mempunyai rasa tanggap akan perubahan dan pembaharuan. Sedangkan kelompok tertutup adalah kecil kemungkinannya menerima perubahann dan pembaharuan, atau mempunyai kecenderungan tetap menjaga kestabilan. Kelompok terbuka berbeda dengan kelompok tertutup dilihat dari empat dimensi berikut ini:
a.    Perubahan Keanggotaan Kelompok
Suatu kelompok terbuka secara ajeg adalah dapat dengan bebas menerima dan melepas anggota-anggotanya. Kelompok tertutup memelihara kestabilan keanggotaan kelompok, dengan sedikit sekali kemungkinan adanya penambahan dan pelepasan anggota setiap saat. Hubungan status dan kekuasaan biasanya lebih mapan dalam kelompok tertutup.
b.    Kerangka Referensi
Perluasan kerangka referensi dalam kelompok terbuka dapat menambah kreatifitas karena kelompok terbuka mempunyaikemungkinana kebebasan menerima dan melepas anggota. Sedangkan dalam kelompok tertutup karena kestabilan keanggotaan yang diutamakan maka kerangka yang baru kurang terangsang untuk membawa ide-ide baru yang segar yang menuju kearah pembaharuan dan perubahan.
c.     Perspektif Waktu
Kelompok terbuka dalam perspektif waktu ini lebih berfikir untuk masa sekarang dan masa depan yang dekat hal ini disebabkan karena kelompok ini tidak stabil keanggotaannya dan kecenderungannya secara ajeg menerima perubahan dan pembaharuan. Adapun kelompok tertutup sebaliknya, mampu memelihara horizon waktu dalam perspektif yang berjangka panjang. Banyak dari anggota kelompok ini menimbang sejarah masa lalu, dan mengaharapkan bisa melanjutkan untuk masa-masa yang panjang, dengan suatu perencanaan jangka panjang.
d.    Keseimbangan
Keseimbangan adalah keadaan adanya suatu sistem yang menjaga kestabilan setelah mempunyai keadaan yang memporak porandakan. Kelompok terbuka lebih mengarah kurang adanya keseimbangan dibandingkan dengan kelompok yang stabil yakni kelompok tertutup. Lain halnya yang menjaga adanya kestabilan yang mengutamakan adanya keseimbangan dibandingkan keguncanagan.
4.    Kelompok Referensi
Suatu kecenderungan yang positif dari prilaku manusia ini ialah adanya usaha untuk mencari umpan balik (feed Beck) tentang dirinya. Kelompok referensi ini adalah setiap kelompok dimana seseorang melakukan referensi atasnya. Orang yang ini mempergunakan kelompok tersebut sebagai suatu ukuran (standar) untuk evaluasi dirinya dan atau sebagai sumber dari nilai dan sikap pribadinya. Kelompok ini memberikan dua fungsi bagi seseorang untuk evaluasi diri antara lain:
a) Fungsi Perbandingan Sosial (social comparison)
Dalam fungsi ini seseorang menilai dirinya dengan cara membandingkan dirinya dengan diri orang lain.
b)       Fungsi Pengesahan Sosial (social validation)
Dalam fungsi ini seseorang mempergunakan kelompok sebagai suatu ukuran untuk menilai sikap, kepercayaan dan nilai-nilainya. Dalam hal ini diri seseorang dinilai dibandingkan dengan kelompok sebagai referensinya.
Kelompok referensi mempunyai pengeruh yang amat penting pada kedua fungsi tersebut, sebagai suatu ukuran untuk menilai sikap, kepercayaan, nilai dan tujuan seseorang.

5.       Struktur organisasi
Struktur suatu kelompok dapat terlihat dari pola hubungan yang berlaku tetap antara anggota kelompok yang bersangkutan. Pola hubungan ini menimbulkan kecenderungan pada tiap anggota untuk menempatkan diri mereka masing-masing pada tempat yang menurut mereka merupakan tempat yang tepat untuk mereka.
a.       Hubungan Antar-Status
Susunan status atau urutan sosial dapat berkembang karena berbagai sebab. Namun secara umum dapat dikatakan bahwa status bergantung pada berapa besar seseorang memberikan sumbangannya bagi tercapainya tujuan. Seseorang yang merasa mempunyai ‘jasa’ terbesar cenderung berusaha mendapatkan status yang tinggi.
Susunan status dalam suatu kelompok, dan juga dalam suatu organisasi, selalu tampil dalam dua wujud, yaitu berupa status formal dan status sosial.
b.       Status dan Pola Interaksi  Manusia
Fisek dan Ofshe mengemukakan bahwa tingkah laku atau cara berinteraksi suatu kelompok sering sekali memberikan suatu gambaran mengenai struktur status dalam kelompok tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang banyak mendapatkan interaksi dari yang lain biasanya merupakan pimpinan kelompok.

6.       Pembagian tugas dan pelimpahan wewenang
Setelah tujuan dirumuskan jelas kedalam tugas-tugas pokok, maka untuk melaksanakan tugas selanjutnya perlu adanya pengelompokan tugas kedalam unit-unit kerja yang juga dinamakan Departementasi. 
Dalam proses departementasi dalam organisasi meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
1.       Menetapkan tujuan, Dimana setelah tujuan ditetapkan kemudian dirumuskan;
2.       Menetapkan setiap kegiatan untuk melak sanakan tujuan perlu dijabarkan dalam tugas pokok, fungsi  yang diikuti dengan kegiatan;
3.       Menyusun daftar kegiatan yang akan dilaksa nakan, setelah kegiatan itu ditetapkan.
4.       Membuat kelompok-kelompok kegiatan  dengan landasan tujuan yang sama.
5.       Melimpahkan wewenang setelah melalui berbagai macam dan batas wewenang yang ditentukan atasan.
6.       Menetapkan rentangan pengawasan dengan pertimbangan obyektif dan subyektif.

PELIMPAHAN WEWENANG (AUTHORITY)
Yang dimaksud dengan pelimpahan wewenang adalah penyerahan sebagian dari wewenang atasan kepada bawahan setelah diadakan penyerahan tugas pekerjaan kepada yang bersangkutan.
Untuk dapat menjalankan tugas dengan baik, maka kepada para petugas atau pejabat harus dilimpahi wewenang. Sebagai konsekuensi itu harus disertai dengan pertanggung jawaban yang sepadan. Wewenang yang dilimpahkan itu meliputi wewenang untuk memerintah bawahannya dan wewenang untuk menggunakan fasilitas / peralatan yang dibutuhkan.
 Manfaat adanya pelimpahan wewenang (Authority)
a)       Pimpinan dapat melalukan tugas-tugas pokok saja;
b)       Tiap tugas dapat dikerjakan pada eselon yang tepat;
c)       Keputusan dapat diambil dengan lebih cepat, dengan kondisi pemikiran  yang jernih dan tidak kacau;
d)       Bawahan dapat berpartisipasi lebih banyak  dalam bentuk  memberikan masukan-masukan yang bermanfaat bagi atasannya;
e)       Dapat dihindarkan sikap menunggu perintah;
f)        Berguna bagi latihan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi;
g)       Pelayanan dapat berjalan terus, meskipun pejabatnya sedang  tidak  ada ditempat atau berhalangan
Pedomanan Dalam Melakukan Pelimpahan Wewenang
1.       Batas wewenang, tugas dan tanggung jawab harus jelas dan seimbang;
2.       Memperhatikan pendapat pegawai yang akan menerima wewenang;
3.       Percaya bahwa  penerima wewenang akan mampu menjalankan tugas dan tanggungjawab;
4.       Pemberi wewenang    harus    tetap melakukan pengarahan, pembimbingan dan pengawasan, sehingga tugas dapat dijalankan dengan baik;
5.       Pemberian dilakukan harus jelas dalam bentuk tertulis agar dapat dipertanggung jawabkan secara administratif.

B.      Perilaku Kelompok dalam Organisasi
1.       Pengertian dan Jenis Kelompok
Kelompok ( group ) menurut Robbins (1996) mendefinisikan kelompok sebagai dua individu atau lebih, yang berinteraksi dan saling bergantung, yang saling bergabung untuk mencapai sasaran-sasaran tertentu.
Ada dua jenis kelompok :
1.  Kelompok Formal
Kelompok ini dibangun selaku akibat dari pola struktur organisasi dan pembagian kerja yang ditandai untuk menegakkan tugas – tugas. Kebutuhan dan proses organisasi menimbulkan formulasi tipe – tipe kelompok yang berbeda–beda. Khususnya ada dua tipe kelompok formal, di antaranya :
a.      Kelompok Komando (Command Group)
Kelompok komando ditentukan oleh bagan organisasi. Kelompok terdiri dari bawahan yang melapor langsung kepada seorang supervisor tertentu. Hubungan wewenang antara manajer departemen dengan supervisor, atau antara seorang perawat senior dan bawahannya, merupakan kelompok komado.
b.      Kelompok Tugas (Task Group)
Kelompok tugas terdiri dari para karyawan yang bekerja – sama untuk menyelesaikan suatu tugas atau proyek tertentu. Misalnya, kegiatan para karyawan administrasi dalam perusahaan asuransi pada waktu orang mengajukan tuntutan kecelakaan, merupakan tugas yang harus dilaksanakan.
2.    Kelompok Informal
Kelompok informal adalah pengelompokan secara wajar dari orang – orang dalam situasi kerja untuk memenuhi kebutuhan sosial. Dengan perkataan lain, kelompok informal tidak muncul karena dibentuk dengan sengaja, tetapi muncul secara wajar.
Orang mengenal dua macam kelompok informal khusus diantaranya
a.      Kelompok Kepentingan (Interest Group)
Orang yang mungkin tidak merupakan anggota dari kelompok komando atau kelompok tugas yang sama, mungkin bergabung untuk mencapai sesuatu sasaran bersama. Para karyawan yang bersama – sama bergabung dalam kelompok untuk membentuk front yang terpadu menghadapi manajemen untuk mendapatkan manfaat yang lebih banyak dan pelayan wanita yang mengumpulkan uang persen mereka merupakan contoh dari kelompok kepentingan. Perlu diketahui juga tujuan kelompok semacam itu tidak berhubungan dengan tujuan organisasi, tetapi tujuan itu bersifat khusus bagi tiap – tiap kelompok.
b.      Kelompok Persahabatan (Friendship Group)
Banyak kelompok dibentuk karena para anggotanya mempunyai sesuatu kesamaan, misalnya usia, kepercayaan politis, atau latar belakang etnis. Kelompok persahabatan ini seringkali melebarkan interaksi dan komunikasi mereka sampai pada kegiatan diluar pekerjaan.
2.       Alasan-alasan terbentuknya kelompok
Menurut (Gibson dkk, 1989, 205-207, Marvin E.Shaw, 1981, 81-97)
1.   Pemuasan Kebutuhan
Hasrat untuk mendapatkan kepuasan dari terpenuhinya kebutuhan dapat merupakan daya motivasi yang kuat dalam pembentukan kelompok.
a)       Keamanan
Individu yang berada dalam kelompok bisa mengurangi rasa tidak aman karena sendirian. Individu akan merasa lebih kuat, percaya diri, dan tahan terhadap ancaman.
b)        Sosial
Keinginan untuk termasuk dalam kelompok dan menjadi anggota kelompok  menunjukkan kebutuhan sosial semua orang.
c)       Penghargaan
Dalam lingkungan tertentu, suatu kelompok yang bergengsi tinggi karena berbagai macam alasan (missal; keahlian, teknis, kegiatan di luar, dsb).

2.   Kedekatan dan Daya Tarik
Kedekatan adalah jarak fisik antara para karyawan yang melaksanakan pekerjaan sedangkan daya tarik adalah menunjukkan daya tarik orang yang satu dengan lainnya karena mereka mempunyai kesamaan persepsi,sikap,hasil karya atau motivasi.
3.   Tujuan Kelompok
Untuk mencapai tujuan kelompok dan menyelesaikan tugas dibutuhkan lebih dari satu atau dua orang. Ada kebutuhan mengumpulkan bakat, pengetahuan, atau kekuasaan untuk menyelesaikan pekerjaan.
4.   Alasan Ekonomi
Motif ekonomis menyebabkan terbentuknya kelompok, karena mereka menganggap akan memperoleh keuntungan ekonomis yang lebih besar dari pekerjaan mereka, jika mereka membentuk kelompok.
3.       Factor keberhasilan kelompok
1.       Moril : moril adalah keadaan jiwa dan emosi seseorang yang mempengaruhi kemauan untuk melaksanakan tugas dan akan mempengaruhi hasil pelaksanaan tugas perorangan maupun organisasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi moril adalah : 1). kepemimpinan atasan. 2). kepercayaan dan keyakinan akan kebenaran. 3). penghargaan atas penyelesaian tugas. 4). solidaritas dan kebanggaan organisasi. 5). pendidikan dan latihan. 6). kesejahteraan dan rekreasi. 7). kesempatan untuk mengembangkan bakat. 8). struktur organisasi. 9). pengaruh dari luar.
2.       Disiplin : disiplin adalah ketaatan tanpa ragu-ragu dan tulus ikhlas terhadap perintah atau petunjuk atasan serta peraturan yang berlaku. Disiplin yang terbaik adalah disiplin yang didasarkan oleh disiplin pribadi. Cara-cara untuk memelihara dan meningkat disiplin : 1). Menetapkan peraturan kedinasan secara jelas dan tegas. 2). Menentukan tingkat dan ukuran kemampuan. 3). Bersikap loyal. 4). Menciptakan kegiatan atas dasar persaingan yang sehat. 5). Menyelenggarakan komunikasi secara terbuka. 6). Menghilangkan hal-hal yang dapat membuat bawahan tersinggung, kecewa dan frustasi. 7). Menganalisa peraturan dan kebijaksanaan yang berlaku agar tetap mutakhir dan menghapus yang sudah tidak sesuai lagi. 8). Melaksanakan reward and punishment.

3.        Jiwa korsa : jiwa korsa adalah loyalitas, kebanggan dan antusiasme yang tertanam pada anggota termasuk pimpinannya terhadap organisasinya. Dalam suatu organisasi yang mempunyai jiwa korsa yang tinggi, rasa ketidakpuasan bawahan dapat dipadamkan oleh semangat organisasi. Ciri jiwa korsa yang baik adalah : 1). Antusiasme dan rasa kebanggan segenap anggota terhadap organisasinya. 2). Reputasi yang baik terhadap organisasi lain. 3). Semangat persaingan secara sehat dan bermutu. 4). Adanya kemauan anggota untuk berpartisipasi dalam setiap kegiatan. 5). Kesediaan anggota untuk saling menolong.

4.       Kecakapan : kecakapan adalah kepandaian melaksanakan tugas dengan hasil yang baik dalam waktu yang singkat dengan menggunakan tenaga dan sarana yang seefisien mungkin serta berlangsung dengan tertib. Pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki pimpinan dapat diperoleh dari pendidikan, pelatihan, inisiatif dan pengembangan pribadi serta pengalaman tugas.
Setiap pemimpin perlu menentukan corak dan gaya kepemimpinannya agar nampak seni kepemimpinannya dalam memimpin. Corak dan gaya kepemimpinan dapat terlihat dari sikap pemimpin, yaitu sebagai : Pemimpin, Guru, Pembina, Bapak dan Teman Seperjuangan. - See more at: http://elmubarok.blogspot.co.id/2009/12/faktor-yang-mempengaruhi-keberhasilan.html#sthash.GkUmWNhe.dpuf
4.        Tugas Kelompok
Pelibatan dan partisipasi anggota {individu} dalam organisasi menjadi lebih penting ketika organisasi tersebut memulai suatu fungsi karena tanpa keterlibatanya kegunaan atau fungsional organisasi tersebut tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.
Keterlibatan dan partisipasi juga cenderung menghasilkan suatu kinerja, pola kegiatan serta hasil dari keterlibatan seluruh unsur manusia dalam organisasi akan menghasilkan suatu fungsi dalam organisasi.
Masing–masing dari individu tersebut di dalam suatu organisasi mempunyai peran yang beragam dan mempunyai keterikatan terhadap suatu wadah, yaitu organisasi. Individu merupakan komponen vital dalam suatu organisasi tetapi tidak efisien jika “individu” ingin mencapai suatu tujuan dasar organisasi. Karena individu tidak mempunyai struktur dan sistem untuk mencapai suatu tujuan organisasi.

5.       Kekhususan kelopmpok